Kedaulatan Rakyat dalam Pemilihan Kepala Daerah Asimetris: Studi Konstitusional terhadap Daerah Khusus, Daerah Istimewa, dan Otorita IKN
Keywords:
popular sovereignty, asymmetric regional elections, local democracy, special regions, Nusantara Capital AuthorityAbstract
This study aims to analyze the construction of popular sovereignty in asymmetric regional head selection and to compare local democracy models in the Special Region of Yogyakarta, Special Region of Jakarta, Aceh, Papua, and the Nusantara Capital Authority. This research uses a qualitative method with normative juridical research. The approaches applied include statutory, conceptual, comparative, and normative case approaches. The data consist of primary, secondary, and tertiary legal materials collected through library research. The analysis is conducted qualitatively and prescriptively through legal interpretation and legal reasoning. The findings show that popular sovereignty in asymmetric local government is not always expressed through direct elections. Yogyakarta represents a historical-cultural privilege model through the appointment of the governor and vice governor. Jakarta maintains direct elections at the provincial level but limits direct elections at the city and regency administrative levels. Aceh reflects a special autonomy model based on political reconciliation and local political parties. Papua demonstrates a special autonomy model based on the cultural representation of Indigenous Papuans. The Nusantara Capital Authority represents the most problematic model because its head is appointed by the President. This study proposes constitutional parameters for assessing asymmetric local democracy, namely constitutional legitimacy, meaningful public participation, citizen representation, accountability of local government leaders, and protection of the substance of local democracy. The findings affirm that regional asymmetry may be constitutionally justified as long as it does not eliminate public control over local governance.
Downloads
References
Al Izzati, R., Dartanto, T., Suryadarma, D., & Suryahadi, A. (2024). Direct elections and trust in state and political institutions: Evidence from Indonesia’s election reform. European Journal of Political Economy, 84, 102572. doi: 10.1016/j.ejpoleco.2024.102572
Al-Hamid, S. A. S., Firmansyah, A. A., & Khoiriah, S. (2023). Kedudukan Otorita Ibu Kota Nusantara dalam ketatanegaraan Indonesia. Jurnal Hukum & Pembangunan, 53(4). doi: 10.21143/jhp.vol53.no4.1505
Aziz, M. R. (2023). Peran dan implementasi DPR sebagai bentuk checks and balances terhadap kebijakan Kepala Otorita IKN. Jurnal Konstitusi dan Demokrasi, 3(2), 148–167. doi: 10.7454/JKD.v3i2.1308
Failaq, M. R. M. F., & Arelia, F. A. (2022). Diskrepansi sistem pemerintahan daerah khusus Ibu Kota Negara Nusantara. Jurnal Studi Kebijakan Publik, 1(1), 57–69. doi: 10.21787/jskp.1.2022.57-69
Fauziah, S. S. (2025). Kewenangan khusus Provinsi Daerah Khusus Jakarta berdasarkan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2024 tentang Provinsi Daerah Khusus Jakarta. Audi Et AP: Jurnal Penelitian Hukum, 4(2), 238–250. doi: 10.24967/jaeap.v4i02.4080
Hadi, F., & Farina, G. (2022). Konstitusionalitas Otorita Ibu Kota Nusantara sebagai bentuk pemerintahan daerah. Majalah Hukum Nasional, 52(1), 69–87. doi: 10.33331/mhn.v52i1.164
Haryani, R. (2023). The implementation of simultaneous local elections: An overview of constitutional law and its impact on democracy in Indonesia. SIGn Jurnal Hukum, 5(1), 102–113. doi: 10.37276/sjh.v5i1.262
Janah, K., Fatimah, S., & Hariz, H. S. S. (2023). The role of Aceh local parties in the 2024 general election in realizing democratization. Volksgeist: Jurnal Ilmu Hukum dan Konstitusi, 6(1), 33–47. doi: 10.24090/volksgeist.v6i1.7532
Juanda, J., & Juanda, O. (2022). Pengangkatan penjabat kepala daerah menghadapi Pilkada Serentak 2024 dalam perspektif hukum tata negara. Jurnal Keamanan Nasional, 8(1), 192–219. doi: 10.31599/jkn.v8i1.534
Kariem, M. Q., & Ginting, M. A. A. P. A. (2025). Mewujudkan legitimasi kultural dalam kepemimpinan Sultan Hamengku Buwono X. Jurnal Pemerintahan dan Politik, 10(3), 594–605. doi: 10.36982/jpp.v10i3.5874
Kurnia, T. S. (2023). Otonomi daerah dan demokrasi: Kritik terhadap pendapat Mujani dan Liddle tentang mandat populis kepala daerah. Undang: Jurnal Hukum, 6(2), 415–445. doi: 10.22437/ujh.6.2.415-445
Kurnia, T. S. (2024). President and presidentialism: Executive power theory. Refleksi Hukum: Jurnal Ilmu Hukum, 9(1), 65–84. doi: 10.24246/jrh.2024.v9.i1.p65-84
Kurnia, T. S., & Melatyugra, N. (2024). Universality of rights as an interpretive principle for the Indonesian Constitutional Court. Constitutional Review, 10(2), 474–504. doi: 10.31078/consrev1027
Kurniawan, D. (2025). Otorita IKN dalam status kelembagaan dan hubungan pembagian kekuasaan pusat dengan daerah. Jurnal Konstitusi, 22(1), 178–205. doi: 10.31078/jk2219
Maheswara, G. B., Rauta, U., & Margaretha, L. P. (2024). Analisis pengaturan substansi kewenangan istimewa dalam Peraturan Daerah Istimewa Daerah Istimewa Yogyakarta. Justitia et Pax, 40(1). doi: 10.24002/jep.v40i1.7879
Mulyaningsih, R. (2022). Kedudukan Kepala Otorita Ibu Kota Nusantara dalam perspektif hukum otonomi daerah. Lex Renaissance, 7(2), 296–309. doi: 10.20885/JLR.vol7.iss2.art6
Noor, F., Siregar, S. N., Hanafi, R. I., & Sepriwasa, D. (2021). The implementation of direct local election (Pilkada) and money politics tendencies: The current Indonesian case. Politik Indonesia: Indonesian Political Science Review, 6(2), 227–246. doi: 10.15294/ipsr.v6i2.31438
Nugroho, D., Subagio, H., & Rachmadi, H. (2023). Birokrasi pemerintahan dan pelayanan publik adaptive dalam bingkai Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta. Metta: Jurnal Ilmu Multidisiplin, 3(3), 313–327. doi: 10.37329/metta.v3i3.2788
Nugrohosudin, E. (2022). Kedudukan Kepala Otorita Ibu Kota Nusantara dalam Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2022. Jurnal Legislatif, 5(2). doi: 10.20956/jl.v5i2.21002
Nurdin, M. R. (2022). Desentralisasi dan kekhususan pelaksanaan otonomi daerah Otorita Ibu Kota Nusantara. Lex Renaissance, 7(3), 617–633. doi: 10.20885/JLR.vol7.iss3.art12
Rahakratat, R., Jusmin, & Andriyan, Y. (2025). Peran Majelis Rakyat Papua dalam penyelenggaraan pemilihan gubernur di Papua Barat Daya tahun 2024. Jurnal Pemerintahan, Politik Anggaran dan Administrasi Publik, 5(3), 469–477. doi: 10.36232/jppadap.v5i3.5219
Rahman, R. A., Satriawan, I., & Diaz, M. R. (2022). Calon tunggal pilkada: Krisis kepemimpinan dan ancaman bagi demokrasi. Jurnal Konstitusi, 19(1). doi: 10.31078/jk1913
Rahmazani. (2023). The problems of appointment acting officer of regional head in the transition period before the election of 2024. Jurnal Konstitusi, 20(2), 196–215. doi: 10.31078/jk2022
Rakia, A. S. R. S., Suaib, H., & Simanjuntak, K. W. (2022). Continuing the limited authority of the Majelis Rakyat Papua: A missed opportunity. Cosmopolitan Civil Societies: An Interdisciplinary Journal, 13(3), 34–50. doi: 10.5130/ccs.v13.i3.7915
Ramadani, R., & Rezah, F. S. (2021). Regional head election during COVID-19 pandemic: The antinomy in the government policies. Yuridika, 36(1), 213. doi: 10.20473/ydk.v36i1.23528
Sadiq, M. F., & Diamantina, A. (2024). Appointment of members of the Indonesian National Army as acting regional heads in the face of simultaneous regional elections in 2024. International Journal of Social Science and Human Research, 7(5), 3510–3518. doi: 10.47191/ijsshr/v7-i05-125
Sapii, R. B. S. (2025). Pengaturan pengangkatan walikota/bupati oleh gubernur: Tinjauan terhadap sistem pemerintahan Provinsi Daerah Khusus Jakarta pasca Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2024. JAPHTN-HAN, 4(2). doi: 10.55292/japhtnhan.v4i2.193
Sari, E., Rahman, A., Faisal, & Muksalmina. (2024). Dinamika politik partai lokal di Aceh menjelang Pemilu 2024: Analisis undang-undang pemilu dan partai lokal. Suloh: Jurnal Program Studi Magister Hukum, 12(1). doi: 10.29103/sjp.v12i1.12046
Sirajuddin, Ramadhan, F., & Rafiqi, I. D. (2021). Urgensi pemisahan penyelenggaraan pemilihan umum serentak nasional dan lokal. Volksgeist: Jurnal Ilmu Hukum dan Konstitusi, 4(2), 233–248. doi: 10.24090/volksgeist.v4i2.5232
Subandi, R. (2023). Konstitusionalitas proses pemilihan Kepala Otorita Ibu Kota Nusantara berdasarkan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2022 tentang Ibu Kota Negara. Jurnal Konstitusi dan Demokrasi, 3(2), 117–144. doi: 10.7454/JKD.v3i2.1307
Sutisna, A., Hapid TA, A., & Lubis, M. A. (2025). Dinamika pencalonan Pilkada Jakarta 2024: Analisis kegagalan Anies Baswedan maju sebagai calon gubernur. Electoral Governance: Jurnal Tata Kelola Pemilu Indonesia, 6(2). doi: 10.46874/x939ct09
Syaiful Anwar, M., Sari, R., & Satrio, N. (2024). Sistem penunjukan penjabat kepala daerah dalam perspektif teori pengisian jabatan. Jurnal Hukum In Concreto, 3(1), 72–84. doi: 10.35960/inconcreto.v3i1.1362
Wijaya, D., & Perdana, A. (2025). Pencalonan Pilkada Jakarta 2024: Dominasi koalisi besar partai politik dan pengaruhnya terhadap partisipasi pemilih. Electoral Governance: Jurnal Tata Kelola Pemilu Indonesia, 6(2), 160–181. doi: 10.46874/h72ddc90
Bahan Hukum Primer
Republik Indonesia. (1945). Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Republik Indonesia. (2001). Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi Papua.
Republik Indonesia. (2006). Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh.
Republik Indonesia. (2012). Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2012 tentang Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta.
Republik Indonesia. (2022). Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2022 tentang Ibu Kota Negara.
Republik Indonesia. (2023). Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2023 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2022 tentang Ibu Kota Negara.
Republik Indonesia. (2024). Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2024 tentang Provinsi Daerah Khusus Jakarta.
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2025 Luh Putu Vera Astri Pujayanti, Muhammad Suhardi

This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.



