ANATOMI RISIKO KEBAKARAN GEDUNG PUBLIK: ANALISIS KERENTANAN SISTEMIK BSCC DOME BERBASIS SWISS CHEESE MODEL DAN BOW-TIE ANALYSIS
ANALISIS KERENTANAN SISTEMIK BSCC DOME BERBASIS SWISS CHEESE MODEL DAN BOW-TIE ANALYSIS
Keywords:
BSCC Dome, Kerentanan Kebakaran, Swiss Cheese ModelAbstract
Kerentanan bencana kebakaran pada gedung publik tidak hanya ditentukan oleh kondisi fisik bangunan, tetapi juga oleh bagaimana lapisan-lapisan pertahanan bekerja atau justru menyisakan celah yang saling melengkapi. Berangkat dari kerangka Swiss Cheese Model, penelitian ini mengkaji kerentanan bencana kebakaran pada Balikpapan Sport and Convention Center (BSCC) Dome sebagai gedung multifungsi yang berperan penting bagi Kota Balikpapan dan penyangga IKN Nusantara. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis tingkat kerentanan kebakaran BSCC Dome, serta merumuskan upaya pengurangan kerentanan yang terdapat pada BSCC Dome. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan integrasi Swiss Cheese Model dan Bow-Tie Analysis untuk memetakan hubungan antara sumber bahaya, top event, penghalang, dan konsekuensi. Data dikumpulkan melalui wawancara dengan 13 informan kunci, observasi sistem proteksi kebakaran dan pengelolaan gedung, serta studi dokumen regulasi dan standar teknis. Analisis dilakukan melalui tahapan reduksi, penyusunan narasi tematik, dan penarikan kesimpulan yang diperkuat oleh triangulasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa BSCC Dome memiliki indeks kerentanan 2,74 (kategori risiko tinggi) dengan pola kerentanan yang bersifat sistemik, yaitu kelemahan pada kebijakan dan manajemen keselamatan, infrastruktur proteksi yang tidak sepenuhnya berfungsi, personel yang belum merata kompetensinya, serta koordinasi eksternal yang belum terlembaga kuat. Dibandingkan dengan SICC dan ICE BSD sebagai benchmark nasional, BSCC Dome masih tertinggal dalam penerapan sistem keselamatan kebakaran berlapis dan terstandar. Rekomendasi penelitian menekankan perlunya penguatan setiap lapisan pertahanan secara konsisten agar “lubang-lubang” kerentanan tidak sejajar dan mampu memutus rantai terjadinya kebakaran pada saat okupansi tinggi.